Malam ini aku menulis tentang sepenggal kisah kita. Aku dan kamu adalah dua orang asing yang dipertemukan oleh ketidaksengajaan. Aku dan kamu adalah dua orang asing dalam cerita yang berbeda. Aku adalah seorang yang tangah hidup dalam mimpi mencintai seorang kekasih hawa yang tak pernah menjadi kekasih hati. Hidup hanya dengan berharap dan berharap tanpa menyadari bahwa sebagian harapan harus berdamai dengan perihnya kenyataan. Menyedihkan.
Kamu adalah seseorang yang tengah berpetualang mencari rumah untuk pulang, sibuk berlayar untuk mencari dermaga terbaik untuk berlabuh. Tak henti berlari meski sesekali tertahih karena rumah ataupun dermaga tak kunjung kamu temui.
Pada purnama ke sembilan hampir dua tahun yang lalu, kamu dan aku menjadi kita. Kita yang hingga kini masih berjalan beriringan. Kamu tidak memaksaku untuk menyamakan dengan langkahmu. Begitupula aku, aku tak memaksamu untuk mengikuti langkahku, tapi kita menciptakan langkah bersama. Membangun ritme perjalanan yang indah. Kalaupun harus berlari, kita berlari dalam sebuah alunan yang indah. Melewati setiap jalan yang kita ingin lalui. Jalan yang tercipta dengan sendirinya, bukan olehmu ataupun olehku.
Perjalanan seorang anak manusia tidak selamanya indah. Tidak selamanya bahagia, begitupula perjalanan kita. Pedih saat aku harus menulis bagian dimana hari kita hanya tentang awan mendung, hujan nestapa dan air mata. Pedih ketika aku harus kembali mengingat bagaimana kamu menangis, dan bagaimana aku bisa bersikap seolah aku tidak bersalah. Aku menikamkan belati pada hatimu kemudian aku tertawa seolah semua adalah salahmu. Seolah belati yang tertancap adalah akibat kesalahanmu sendiri.
Dan saat aku menyeretmu pada jurang perpisahan, satu hal yang perlu kamu ketahui bahwa semua aku lakukan karena terlalu banyak luka yang aku goreskan daripada bahagia yang aku ciptakan. Karena terlalu banyak air mata yang berderai daripada tawa yang tergelak. Aku mencintaimu dan aku juga yang melukaimu. Maka dalam ketidak berdayaanku aku memaksamu untuk terjun kedalam jurang perpisahan. Dalam benakku berulang kali aku berteriak kamu pergi saja, berlari sekencang kamu bisa. Jangan pernah lihat kebelakang jangan hiraukan aku. Biarkan aku larut dalam kepedihan yang memang seharusnya aku rasakan sendiri yang memang seharusnya menjadi apa yang mengurungku. Kamu berhak bahagia, meskipun bukan denganku yang memang pada kenyataannya tak pernah menerbitkan mentari untuk menghapus mendungmu.
Satu hal lagi yang perlu kamu ketahui ketika aku menancapkan belati dan mengoyak hatimmu, menanamkan luka terperih dalam relungmu, sesungguhnya seribu anak panah tengah mengujam hati terkecilku yang tidak pernah berpura-pura. Ketika aku menelurkan luka padamu sesungguhnya aku lebih dari terluka. Melihat kamu menangis, aku lebih dari sekedar menangis seolah air mata tak mampu lagi menggambarkan kepedihan hatiku.
Aih-alih berlari pergi, kamu memilih bertahan. Kamu memilih menggenggam luka dan menelan kepedihan. Kamu memilih bermandikan air mata dan dipayungi mendung. Kamu berbisik padaku bahwa aku adalah bahagiamu, kamu bercerita dalam luka-luka yang tak bisa untuk disembunyikan lagi bahwa aku adalah orang yang merubah jalan hidupmu. Pada saat kamu pertama melihatku di antara kerumunan orang-orang di stasiun kota kembang, katamu aku adalah hal terindah yang memenuhi fikiranmu saat itu. Sekali lagi kamu berhasil meraih tanganku dan menarikku kembali kepada jalan yang kita buat. Kamu berhasil mengajakku untuk melanjutkan ritme perjalanan yang telah kita buat. Luka dan segala kepedihan adalah sebagian dari hidup yang akan mewarnai perjalanan kita.
Kamu dan aku telah sama-sama terluka oleh ego masing-masing. Ijinkan aku membasuh setidaknya luka yang aku torehkan. Aku menyambut uluran tanganmu membiarkan hati kembali kepada tempat seharusnya ia berada. Bukan aku ataupun kamu yang menerbitkan matahari kebahagiaan, melainkan kita berdua yang menerbitkannya bersama. Kita berdua yang menghalau mendung. Aku dan kamu sama-sama memperbaiki apa yang telah rusak dan mempertahankan yang masih baik, agar kapal yang kita kemudikan menemui dermaga untuk berlabuh.
Kamu dan aku menjadi kita oleh waktu. Waktu pula yang menjadikan kita satu. Aku percaya sesungguhnya aku dan kamu dipertemukan bukan oleh ketidaksengajaan seperti apa yang telah aku tuturkan sebelumnya, melainkan aku dan kamu dipertemukan oleh sang waktu yang sombong. Kamu menyadarkanku bahwa hidup bukan hanya sekadar berharap pada apa yang tidak bisa aku gapai. Kamu menyadarkanku bahwa ada seseorang yang menawarkan kebahagiaan yang nyata bukan sekadar angan-angan. Dan aku, aku menjadi rumah untukmu berhenti bertualang. Aku menjadi rumah tempat dimana kamu pulang dan beristirahat. Aku adalah rumah yang menemani senjamu, menenangkan malammu, menyambut pagimu dan menikmati siangmu.
Bukankah hidup ini lucu? Kita dua orang asing
dengan masalah masing-masing berbaur menyatu menjadi kita yang saling
berbagi menyelesaikan masalah bersama.Kita diberikan waktu untuk terluka dan
menangis untuk mengenang bahwa betapa indah waktu ketika tengah
berbahagia. Kita diberikan waktu untuk berbahagia karena waktu itu sendirilah yang membasuh luka. Semoga sang waktu mengijinkan kita untuk tetap menjadi kita yang berjalan beriringan hingga kita akhirnya menyerah pada kesombongan waktu, yakni ketika aku atau kamu harus kembali kepada Sang Pemilik waktu.
Aku, Kamu, Kita menari bersama sang waktu.
No comments:
Post a Comment