Tuesday, 4 September 2018

Aku Bersyukur, Kehilangan Kamu.

Kita telah membisu satu minggu.
Tanpa aku ketahui mengapa demikian. Diam mu menimbulkan beribu pertanyaan dalam benakku. Tapi aku percaya semua baik-baik saja.  Kita akan duduk bersama memecah keheningan yang mengerikan diantara kita dan kita akan kembali bersama lagi. Tentu saja, kita sudah berjalan bersama cukup lama sesulit dan serumit apapun kamu akan pulang kepadaku.

Aku salah.
Kala itu kamu datang kepadaku membawakan ku badai. Hujan tumpah dari matamu membasahi pipi mu seiring kamu menceracau menghujaniku dengan kata-kata yang sama sekali tidak aku mengerti. Mengapa harus menceracau kacau sedangkan aku hanya perlu satu kata darimu, maaf, itu saja. Kata-katamu terus berdengung dan bergemuruh dalam fikiranku. Perpisahan yang kamu inginkan.

Kita berjalan bersama cukup lama.
Kita sudah sering berpisah kemudian kembali bersama.
Katamu kamu tidak bisa membahagiakan aku sehingga perpisahan adalah jalan terbaik. Jika memang kebahagian yang jadi alasanmu kenapa kamu baru permasalahkan sekarang?  Hidup dan nasibku sebelum dan sesudah mengenalmu tidak ada yang berubah. Aku tidak pernah menuntutmu lebih.  Aku tidak pernah memintamu lebih dari apa adanya kamu. Aku ingin mengerti dan meyakinkan mu bahwa bahagia itu tidak harus selalu mendapat apa yang kamu inginkan.  Sekuat tenaga aku pertahankan bahtera yang telah kita kayuh bersama.  Tapi kamu seolah ingin membuatnya karam. Kamu teguh ingin mengakhiri segalanya.

Aku ingin kejujuran.
Aku mengenalmu dan bersamamu cukup lama.  Rasanya janggal dengan keputusan mu mengakhiri semuanya semudah ini dengan alasan yang jelas-jelas tidak masuk akal. Setiap hari aku menceracau meyakinkanmu bahwa ada jalan keluar yang lebih baik dari perpisahan. Setidaknya aku ingin kejujuran. Alasan dari perpisahan ini karena alasanmu tidak bisa aku terima.  Tapi tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutmu. Hanya tangisan yang terisak. Dan pada akhirnya aku menyerah.  Aku menyerah meyakinkanmu mempertahankan hubungan ini. Aku melepaskan mu dengan alasan yang sulit aku mengerti. Hingga akhirnya kamu datang. Malam itu kamu menggenggam tanganku dan berkata bahwa perpisahan ini adalah jalan yang terbaik bahwa kamu tidak bisa memberikan kebahagiaan untukku.  Kesedihan kentara diwajahmu seolah berat melepaskan semuanya. Aku hanya mengagguk mengiyakan. Rasanya aku sudah lelah dengan semua ini. Memang sudah seharusnya seperti ini jika hanya aku yang bertahan sementara kamu terus ingin berlari meninggalkan semuanya.

Kenyataan.
Belum habis satu pekan saat kita berucap perpisahan.  Kenyataan menyambarku seperti petir disiang bolong.  Kenyataan bahwa kebahagiaan bukanlah alasan dari perpisahan ini. Seseorang menyelinap masuk mencuri dan menghancurkan bahtera yang sudah kita kayuh bersama. Semua mimpi,  harapan dan masa depan yang telah kita rangkai bersama selama ini seketika itu kamu karamkan semua.  Kamu bilang kamu tidak bisa membahagiakan aku tapi kamu memilih pergi untuk membangun kebahagian lain dengan dia.  Semudah itu kamu mempersilahkan dia masuk dalam kehidupan kita.  Akhirnya aku mengerti arti dari diam mu. Kejujuran yang selama ini aku minta. Serapat apapun kamu menutupinya semua akan terkuak juga cepat atau lambat.  Rasanya seperti ditampar berulang-ulang kali.  Janji setiamu, komitmen mu yang selama ini membuatku bertahan denganmu hanya bualan belaka. Masa depan yang telah kita bangun runtuh seiring dengan luka yang kamu torehkan. Kamu telah berhasil menciptakan mendung untukku.  Sedangkan kamu tengah melukis pelangi bersama dia.

Memaknai kehilangan.
Selalu ada hikmah dibalik semua kejadian.  Kehilanganmu membuka mataku.  Tuhan itu Maha Baik,  Dia memperlihatkan semuanya.  Kamu bukan yang terbaik untukku dan begitupun aku bukan yang terbaik untukmu. Ikhlas adalah cara yang paling ampuh menyembuhkan segalanya.  Sulit dan pasti menyakitkan tapi semua adalah proses. Aku tidak berusaha melupakanmu atau melupakan kenangan kita, tapi luka yang kamu beri mampu mengubur semuan kenangan kita dan  mampu membuatku bangkit dari kesedihan. Kehilanganmu begitu menyakitkan sekaligus begitu indah. Tuhan mempertemukan kita membuatmu memilihku diantara yang lain membuatku membuka hati untukmu. Tuhan juga yang memisahkan kita dengan cara-Nya. Tuhan hanya memberikan waktu untukku mendampingimu selama tiga tahun. Banyak sekali hikmah yang mulai aku rasakan. Rasa sakit dan air mata yang telah terjatuh karena kehilanganmu biarkan menjadi pelebur dosa-dosaku. Kehilanganmu membuatku meraskan kasih sayang Tuhan yang begitu indah. Melepaskan mu suatu hal yang berat namun memberikan ku pelajaran yang berharga. Sebelum bertemu dengan kamu hidupku bahagia lantas kenapa kehilanganmu harus membuat hidupku terpuruk? Aku bersyukur mengenal kamu dan aku juga bersyukur berpisah dengan kamu . Aku sangat mensyukuri kehilangan kamu.

No comments:

Post a Comment